Pemerintah Indonesia mengumumkan larangan total ekspor semua logam tanah jarang dan produk sampingannya. Larangan ini ditandatangani oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, bertujuan untuk merealisasikan instruksi Presiden Prabowo dalam memperkuat kendali negara atas sumber daya strategis.
Sumber daya logam tanah jarang Indonesia terutama terdapat sebagai produk sampingan penambangan timah (seperti monasit, xenotim), yang mengandung 17 jenis elemen tanah jarang. Di antaranya, permintaan untuk bahan magnet permanen seperti Neodimium (Nd) dan Praseodimium (Pr) menyumbang lebih dari 60% konsumsi global.
Badan Industri Mineral yang baru dibentuk pada Agustus akan memimpin pengolahan bernilai tambah logam tanah jarang, dengan prioritas pengembangan oleh BUMN di area yang belum memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP). Bahan magnet permanen dari logam tanah jarang menyumbang 90% nilai pasar global. Indonesia berencana memperoleh keuntungan lebih tinggi melalui pengolahan dalam negeri. Ekspor produk sampingan timah saat ini belum sepenuhnya mencerminkan nilai strategis logam tanah jarang, dan larangan ini mendorong perpanjangan rantai industri.
Pemerintah akan fokus mengawasi aliran produk sampingan perusahaan timah, melalui BUMN yang memimpin pemurnian dan pengembangan aplikasi logam tanah jarang, guna membangun rantai industri yang lengkap. Langkah ini dipandang sebagai langkah kunci Indonesia untuk mengurangi ekspor mineral mentah dan meningkatkan nilai tambah sumber daya.
Pemerintah Indonesia mengumumkan larangan total ekspor semua logam tanah jarang dan produk sampingannya. Larangan ini ditandatangani oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, bertujuan untuk merealisasikan instruksi Presiden Prabowo dalam memperkuat kendali negara atas sumber daya strategis.
Sumber daya logam tanah jarang Indonesia terutama terdapat sebagai produk sampingan penambangan timah (seperti monasit, xenotim), yang mengandung 17 jenis elemen tanah jarang. Di antaranya, permintaan untuk bahan magnet permanen seperti Neodimium (Nd) dan Praseodimium (Pr) menyumbang lebih dari 60% konsumsi global.
Badan Industri Mineral yang baru dibentuk pada Agustus akan memimpin pengolahan bernilai tambah logam tanah jarang, dengan prioritas pengembangan oleh BUMN di area yang belum memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP). Bahan magnet permanen dari logam tanah jarang menyumbang 90% nilai pasar global. Indonesia berencana memperoleh keuntungan lebih tinggi melalui pengolahan dalam negeri. Ekspor produk sampingan timah saat ini belum sepenuhnya mencerminkan nilai strategis logam tanah jarang, dan larangan ini mendorong perpanjangan rantai industri.
Pemerintah akan fokus mengawasi aliran produk sampingan perusahaan timah, melalui BUMN yang memimpin pemurnian dan pengembangan aplikasi logam tanah jarang, guna membangun rantai industri yang lengkap. Langkah ini dipandang sebagai langkah kunci Indonesia untuk mengurangi ekspor mineral mentah dan meningkatkan nilai tambah sumber daya.