International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan batu bara global akan mencapai puncaknya pada tahun 2030, dan dinamika pasar di masa depan akan ditentukan oleh China, India, Indonesia, dan beberapa negara Asia Tenggara, di mana sekitar setengah dari kebutuhan batu bara negara-negara tersebut digunakan untuk pembangkit listrik. IEA menilai prospek batu bara di negara-negara ini bergantung pada kemampuan sistem kelistrikan dalam menyerap gas alam serta kapasitas baru energi terbarukan (EBT). Pada tahun 2035, kapasitas EBT di negara berkembang rata-rata akan meningkat lebih dari 600 GW per tahun, cukup untuk mendorong penurunan permintaan batu bara yang berkelanjutan. Namun, jika tren penyerapan EBT dan gas alam terhenti, permintaan batu bara dapat melonjak kembali. IEA juga memperkirakan konsumsi minyak dan gas akan tetap kuat hingga tahun 2050, didorong oleh arah kebijakan energi AS dan harga gas alam yang relatif rendah. Dalam jangka pendek, pasokan minyak cukup melimpah, berkat kontribusi dari lima negara Amerika, namun penurunan produksi dari ladang minyak yang ada serta pertumbuhan konsumsi akan dengan cepat menyerap kelebihan pasokan. Pada tahun 2035, diperlukan tambahan pasokan sekitar 25 juta barel per hari untuk menyeimbangkan pasar, dan harga minyak diperkirakan akan naik untuk merangsang investasi hulu. Selain itu, meskipun ada kekhawatiran tentang kemampuan penyerapan pasokan baru LNG, IEA memperkirakan permintaan gas alam tetap akan meningkat. Keamanan energi menjadi fokus banyak pemerintah, dan penyusunan kebijakan perlu mencari sinergi dan kompromi di antara target-target energi yang berbeda.